saya pernah benar-benar ingin pulang, namun niat itupun saya urungkan
setelah saya tak menemukan kunci yang biasanya kita simpan di bawah pot bambu
“…telah letih jalanku dan terasa berat,
cukup banyak kesalahan kubuat
di mimpiku—kudengar bunyi suaramu
yang memanggilku pulang ke dalam hatimu
karena hanyalah hatimu rumah terindah…”*
saya cuma orang biasa yang merindui pokok kayu berderak,
bunyi lesung dan letupan nasi yang dimasak.
tubuh inipun punya luka, sama seperti kalian.
sama seperti waktu yang menyuakan kita.
dan tentang rumah—segalanya akan baik-baik saja
selama masih ada kicau burung, tetes hujan
dan orang-orang yang berteriak: tentang
dan jika memang harus pulang, kenapa tidak
bukankah kita adalah laut,
bukankah kita adalah ladang,
bukankah kita adalah kenangan?
*)pulang ke hatimu—shera
ost 9 naga